Apologia.

“ Kita pun butuh jeda dan kata – kata pun butuh spasi agar maknanya bisa tersampaikan “

 

Dalam persidangan Athena Majelis Hakim menjatuhkan hukum terberat kepada seorang bernama Socrates. Ia dituduh telah membuat kerusuhan ditengah masyarakat. Namun menurutnya di dunia ini terdapat kebenaran obyektif, yang tidak bergantung pada apa pun. Kebenaran bukanlah sesuatu yang disajikan, apalagi dipaksakan pada orang lain. Kebenaran itu sudah terkandung pada diri setiap orang.
Pada hari pengadilan yang dihadiri 2/3 warga Athena, Socrates menyampaikan tiga buah pidato yang ia sebut apologia. Sebuah nota pembelaan terhadap dirinya sendiri didepan majelis hakim. Walaupun ada sedikit peluang baginya untuk menghindari dari keburukan namun ia memilih hal yang berbeda, ia lebih memilih untuk meminum racun yang ia terima oleh seorang petugas penjara.

***

“Aku Mencintaimu”

Sebuah ungkapan dengan penuh kesadaran atas hakikat dari kebaradaan “aku” sebagai manusia yang memiliki kehendak untuk menyerahkan sebagian ke-aku-anya kepda objek yang kusebut “kamu”. Perbuatan cinta adalah untuk menyadari keberadaan “aku” bukanlah satu-satunya yang dapat bertahan dalam ke-aku-anya, dalam artian menyadari ada sesuatu yang diluar aku yang [atutu aku agungkan, rasai dan hargai. “Kamu” yang secara gramatikal berarti objek namun bermakna subjek karena memiliki kehendak.

Sebuah bentuk intersbujektifitas jika nilai pragmatik berupa pengharapan si “aku” kepada “kamu”. Sebuah filosofi bahwa perihal mencintai kita semua sama dalam menjadi manusia sebagai fitrah. Atau kata seniorku, Cinta itu imajiner yang akan selalu ada bayangan dan hasrat untuk slaing memeluk. Akan selalu ada imajinasi yang berjalan melampaui gravitasi, terbang tanpa batas untuk sekedar menceritakanmu betapa luasnya mitzal yang tersisa untuk kita. Yang tak terbatas antara ruang dan waktu.

Tahukah engkau apa yang orang cakap itu katakan ?

“Cinta itu kebijaksanaan kasihku, bukan bahagia melihat kau bahagia, namun kebijaksanaan bahwa aku tidak akan pernah menggengammu seperti pasir, jatuh dan habis. Kebijaksanaan yang meleburan aku dank au menjadi sistesis dalam kita. Sebuah kongklusi tanpa premis”

Kyut yang manis, paling manis dan akan selalu manis..
Akhir – akhir ini hujan selalu turun di waktu sore, perlahan dan menderas menghujani. Jangan cemas atas beberapa hal-hal yang akan terjadi, kamu mesti bersiap kapan pun. Kasih, jangan pernah takut dan jangan pula kau gusar, dan jangan pernah melihat hujan yang jatuh tapi lihatlah apa yang akan tumbuh.
Ruangan percakapan kita seharusnya hangat, bukan malah menjadi dingin dan juga panas. Kehangatan percakapan kita kiang meredup karena ketidakmampuan kita menahan diri untuk bereaksi terhadap sesuatu dengan santai. Padahal dua telingan dan satu mulut tentunya tercipta untuk lebih banyak mendengar daripada bicara bukan ?
Namun jangan khawatir jika telah demikian. Akan ada sekian banyak ruang dan waktu bisa kita luangkan untuk saling berbicara tuk mengahangatkannya kembali.

Terhadap apapun yang akan terjadi nanti, tolong jangan pernah cepat menyerah. Apapun yang terjadi kemarin, biarkanlah sebagai catatan terhadap apa yang mesti di evaluasi. Jangan pernah mengulangi, karena kata Marx sejarah berulang yang pertama sebagai suatau tragedi dan kedua sebagai sandiwara. Mari berbenah kasih.
“Tidurlah sejenak menemui pagi, walau pedih ku bersamamu kali ini, ku masih ingin melihatmu esok hari – Evaluasi Hindia“

***
Jika perhatian tak dapat kuberikan secara langsung, jika perasaan tak dapat kutunjukkan setiap detiknya. Ketahuilah, akan ada suatu jalan untukku agar selalu menunjukkannya dengan sepenuh hati dengan impian-impian tentang bahagiamu

Standar

Medium.

“ Dalam setiap keindahan, selalu ada mata yang memandang. Dalam setiap kebenaran, selalu ada telinga yang mendengar. Dalam setiap kasih, selalu ada hati yang menerima ” 

IMG_20191129_180617

Kenapalangit menghitam tapi hujan tak nampak turun ? Ada apa dengannya ? Apakah dilangit itu Raja Zeus sejenak berhenti berperang karena kehilangan kekuatan ? Hal demikian yang terlewat sejenak dalam pikiran saya ketika diperjalanan menyusuri kota yang kusebut Makassar.

Setiap pagi atau sore ribun manusia berlalu lalang tanpa sedikit pun memberi jeda sebentar. Bukankah baiknya jika kita bisa bersama meluangkan waktu untuk bertatap muka dan membicarakan hal-hal aneh di muka bumi ini yang tak sedikit orang tetap saja melakukannya atau menikmati secangkir coklat panas yang lebih nikmat jika dihidangkan bersama kue kesukaanmu itu ?

****

Pernahkah engkau bertanya-tanya tentang suatu hal, mengapa kita dipertemukan pada suatu kebetulan yang berakhir dengan kebutulan-kebutulan lainnya ? Satu pesan yang kau kirimkan seakan menjadi gerbang pembuka bagi pesan-pesan selanjutnya. Kita sama-sama tidak tahu, bahwa kata-kata mampu menumbuhkan kasih sayang. Kita juga sama-sama tidak mengerti, mengapa perasaan yang kita miliki berubah menjadi sedalam ini.

Apa kabar hari ini ? Lihat tanda tanya itu…….

Kasih, ceritakanlah tentang harimu. Hari yang kau sebut sebagai medium pertarunganmu pada gelar dan masa depanmu nanti. Ku tak bisa berekspektasi diluar diriku mengenai harimu, maka baiknya engkau ceritakan saja dan aku senangtiasa menjadi pendengar yang baik atas kisahmu. Hingga salah satu diantara kita akan tertidur dan di malam yang kelabu, kubisikkan permintaan pada Tuhan untuk membersamaimu.

Jika kau butuh ruang untuk menyendiri, aku mengerti dan siap untuk menepi. Akan baiknya jika ada jeda sebelum melanjutkan roda perjalanan ini. Percayalah dari setiap kejauhan tersirat doa yang kupanjatkan yang menumbus langit menuju-Nya untukmu. Perjuanganmu kali ini benar-benar diuji lebih kali lipatnya, langkah-mu kadang tertahan dan terasa berat. Tiada yang benar-benar mudah bahkan bernafaspun punya system tersendiri. Begitupun denganmu kini.

Seberkas cahaya telah nampak dari kejauhan. Ikutilah dan ia akan senangtiasa mengantarmu menuju  pada gerbang riak-riak kemenangan dan aku akan pastikan menyambutmu dengan penuh kebahagiaan. Percayalah……

Ku tahu banyak lelaki diluar sana yang ingin memilikimu. Pesan dengan kode-kode itu acapkali kamu terima. Jika kau penasaran dengan perasaanku, tengoklah sesekali…..Tidak perlu kau ragukan aku. Sebab untuk hatimu, hatiku selalu berhati-hati karena jatuh cinta tidak semudah kau membalikan telapak tangan. Andaikan diberi kesempatan oleh Tuhan untuk hidup kembali nanti, mungkin aku akan memilih mencintaimu lagi. Sebab jauh di dalam hatiku, satu nama telah terpatri disana. Hanya satu, milikmu.

Sesulitpun masalah dan sepelik apapun medan perang, tetap harus dilewati bersama dan tetap berpegang teguh menyelesaikannya dengan baik. Kita harus menaklukkannya bersama.

***

“ Permata yang jatuh dalam lumpur sekalipun ia tetaplah permata. Sekali hilang, berjuta orang berebut. Kenapa ? karena sekali lagi ia begitu berharga – Kyut

 

Standar

one only.

……. Jika ada seorang yang terlanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang hadir kemudian hanya menyentuh kemungkinan……… — Aan Mansyur

Dipertengahan malam ini tak kusangka akan kutonton kembali film yang telah menjadi kenangan masa lalu ..……. Bayangan Cinta membuat jemariku untuk menyalakan computer. Disisi yang lain aku seperti menyelami kesedihan — kesedihan lama yang hidup dalam raut muka seorang Rangga. Namun, biarlah saja karena toh memang ini adalah keinginan ku sendiri.

***

Pada saat Rangga pulang dari New York ia bermaksud akan menemui cinta dan menyelesaikan apa yang mesti ia selesaikan. Setiba di Indonesia ia sempat menjumpai rumah lama cinta di Jakarta sebelum meneruskan perjalannya ke Jogja.

Dilain hal, ia berniat menemui Ibunya yang lama tak ia temui sejak kecil. Di selah perjalanan di dalam taxi mobil rangga menuliskan puisi tentang perasaannya….

“Aku seperti menyelami kesedihan lama

Yang hidup bahagia dalam sajak-sajak Pablo Neruda

Aku seperti menyalami sepasang kolam

Yang dalam dan diam di wajahmu.”

Sejenak ku berhenti dan merenungi perkataan Rangga dan kulang-ulang beberapa kali hingga aku paham……Sejam setelahnya aku berfikir jika baiknya apa yang telah terjadi juga kutuliskan dalam sebuah cerita.

Sebuah cerita persembahan atas kejadian-kejadian akhir-akhir ini yang penuh tawa, emosi,  dan juga luka yang digores habis-habisan. Baik, mari kita mulai dari sini……..

****

Duhai kasihku, sulit bagiku untuk meraba… mengapa engkau begitu dingin dan diam. Setiap detikpun kupandangi jendela ponsel milikku dan berharap kau adalah pesan yang terkirim oleh mu. Aku tidak mengerti atas segala hal yang terjadi. Tapi kubiarkan semesta berjalan dan bekerja. Semoga kita tetap pada satu frekuensi.

Hari melesat begitu cepat, kemarin tentu menjadi hari terberat bagimu….. maka belajarlah dari kemarin untuk hidup sekarang karena esok akan selalu menjadi misteri yang tak kau temukan jawabnya. Namun yakinlah ada sesuatu yang menantimu setelah banyak kesabaran yang kau jalani yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit. Istirahatlah sejenak dan ketika kau bangun bahwa kusampaikan dari kejauan “hidup akan memiliki sampai kita memiliki kita”.

Duhai kasihku, banyak yang bertanya padaku, apa alasan aku mencintaimu ? aku diam, kusuruh ia untuk melihat wajahku. Kutarik bibir hingga tertata letak senyum dan pipiku yang memerah. Benar, hanya pancaran yang bisa kulakukan. Ku keluarkan aura bahagia lewat pancaran mata yang tak pernah berbohong.

Ketahuilah bahwa tidak sedikitpun ada keraguanku untuk terus hidup dengan dirimu walaupun berjuta anak panah yang menghunus tubuhku setiap hari dan aku pun masih berdiri meyakinkanmu bahwa aku tidak akan pernah mati hanya karena pisau yang menembus jantungku. Aku akan terus hidup dengan mimpi yang bahkan melampaui setiap kemampuanmu dalam menerjemahkan realitas.

Duhai kasihku, cinta dapat membuat seseorang menjadi kuat dan cinta pula dapat membuat seseorang menjadi lemah. Demikian aku tiga tahun belakagan ini. Hari — hari yang kulewati adalah mendung yang menghujangi jiwa setiap langkahku. Tapi setelah pertemuan denganmu hariku perlahan menjadi baik dan seolah tunas-tunas bunga yang kemarin kutanam telah bermekaran pada dirimu.

Kasih dan perhatian mendatangkan kepedulian, ketulusan dan kerelaan untuk berkorban. Kasih dan perhatian mampu melepaskan kita dari belenggu kesalahpahaman. Kasih dan perhatian itu mendatangkan kedamaian dan merekatkan perbedaan menjadi suatu kedekatan yang menyenangkan.

Duhai kasihku, aku tak berniat untuk untuk membangun rasa padamu karena perasaan itu telah ada begitu saja tanpa kuduga. Aku tak bisa mencegah rasa itu datang padaku karena perasaan itu masuk begitu saja tanpa permisi. Aku tak bisa memilih kepada siapakah rasa ini tertarik karena aku tak memiliki kekuatan untuk itu. Saat rasa mengendalikanku, aku tak tahu harus berbuat apa-apa.

Begitupun mencintaimu, aku tak pernah menemukan alasan tentang asal cinta dan bagaimana cinta itu bisa berkembang. Jika alasanku untuk mencintaimu karena kau memberikan kekuatan saat kau menggengam tanganku, maka saat kau tak lagi menggengam tanganku aku tak memiliki alasan lagi untuk mencintaimu. Jika pelukanmu yang menghangatkanku membuatku mencintaimu, maka saat kau tak lagi memelukku maka tak ada lagi alasanku untuk mencintaimu. Jika saat senyumanmu menjadi alasanku untuk meencintaimu maka saat senyuman itu tak lagi menajadi milikku maka tak ada lagi alasanku untuk mencintaimu. Jika alasanku mencintaimu karena perhatian yang kau berikan padaku maka saat kau tak lagi melakukan hal itu maka tak ada lagi alasanku untukku mencintaimu.

Duhai kasihku, hanya namamu yang ada dalam hatiku, jiwa dan raga takkan mungkin berdusta. Dengarkanlah ini sebagai suara hati seorang kekasih yang bagaikan nyanyian surgawi. Takkan berdusta walaupu ketamakan merajai diri yang penuh emosi yang jauh didasar hatiku tapi……. ku tetap mau kau sebagai kekasihku.

 Seorang yang telah berbagi kasih dengan ikhlas dan penuh keberanian. Lawan bicara, kawan berfikirku. Ketahuilah bahwa sungguh karena…… Aku menyayangimu tanpa “karena” – Kyut RAA

______________________________________

Lalu setelah cerita ini selesai aku melanjutkan menonton kembali film tersebut yang dimana ternyata aku lupa untuk mematikannya sejenak. Tapi biarkan saja, saat itu adegan yang terjadi pada suatu moment dimana ternyata Cinta akhirnya kebingunan terhadap apa yang telah ia katakan dan memberanikan diri untuk menyusul Rangga ke New York. Cinta dan Rangga adalah hal lain yang menjadi contoh bagi setiap orang di dunia ini bahwa cinta hanyalah cinta bagi si pemilik cinta sejati dan Rangga menujukkan bahwa kebahagiaan bukan karena harus raya dan mewah tapi dengan kesederhanaan cinta yang membuatnya sabar menunggu cinta lagi dan kembali tersenyum. 

***

 

 

Standar

Pare in Love

I realize that my world keep turning, turning and turning. Ini hanya permasalahan waktu dan kepada siapa lagi aduan itu berakhir. Pelabuhan dan untaian kata adalah sajak yang dihadirkan bibir atas perihal-perihal yang terjadi kemarin, esok dan juga nanti.

Sesuatu begitu saja terlewatkan, barang siapa menghadirkan waktu secara tiba-tiba, namun pula akan dilenyapkan oleh waktu secara tiba-tiba. Sehingga yang tersisa bukan hanya kenangan dalam tempurung kepala, tetapi juga amarah, benci dan cinta.

Forgivenees is not something for another people. We do it for ourselves to get well and move on. I promise in my mind don’t star another fire.

Sompeki’ topada sompe’, topada maminaga tossilabuang. Engkaki ritu sompereng deceng munawa -nawa lisepa murewe

If you thought pare just only about leraning literature, that’s wrong. You can gets anymore. Sebuah tempat dengan penuh kesederhanaan. Orang silih berganti merajuk cita dan harapan akan sebuah kekuatan mimpi. Namun, tak sesekali pula melahirkan cinta. Yang jatuh kebawah pada waktu yang salah.

Permasalahan yang kemarin-kemarintentu menjadi pembelajaran untuk menjadi lebih baik kedepannya. Memaafkan dan mengikhlaskan semua serta berdamai dengan diri sendiri adalah kunci. Sebagaimana kata Imam Ali “balas dendam terbaik adalah membuat diri kita lebih baik”.

Kata mam indah, selagi kamu masih memiliki harapan dalam dirimu, engkau masih bisa mengubah hal-hal kemarin untuk memperoleh apa yang apa yang pantas kamu dapatkan. If you can influence, you can change life.

So,now I find the direction to throw away all the bitter memories. And every cloud hasil silver lightning.

Standar

Munajat Syaban

Tuhanku, aku tidak punya kekuatan untuk meninggalkan maksiatku kepada-Mu kecuali pada waktu Engkau bangunkan aku untuk mencintai-Mu. Dan sebagaimana Engkau inginkan aku untuk menjadi aku seperti sekarang ini, maka aku bersyukur kepada-Mu.karena Engkau telah memasukkan aku dalam anugrah-Mu dan karena Engkau telah membersihkan hatiku dari noda kelalaian pada-Mu.

Tuhanku, pandanglah daku seperti Engkau memandang orang yang Kau panggil dia lalu dia menjawab panggilan-Mu, yang Kau bimbing dia dengan bantuan-Mu lalu ia mantaati-Mu.Wahai Yang Dekat dan tidak menjauh dari orang yang kebingungan karenanya. Wahai Yang Pemurah tidak bakhil kepada siapapun yang mengharapkan pahalanya.

Sungguh, karena itu ku mencintai-Mu karena tak ada satupun kecintaian yang lebih kutemukan pada yang lainnya selain daripada-Mu.

Standar

Seperti Layla Si Majnun

Hanya manusialah yang dapat merasakan kepedihan memiliki sesuatu yang tak dibutuhkannya, namun mendambakan sesuatu yang tak dimilikinya dan hanya manusialah yang dapat merasakan kesedihan memiliki sesuatu yang tak dibutuhkannya, namun mendambakan sesuatu yang tak dapat dimilikinya… – Nizami

___________________________________

Perempuan mana yang tak jatuh sakit, jika seberkas cahaya terang dalam dirinya perlahan meredup dan tak lagi bersinar seperti bulan di waktu malam dan matahari di waktu pagi. Perempuan mana yang tak hancur, jika setengah jiwanya hilang bak lautan yang tiba-tiba saja mengering. Dan perempuan mana yang tak gila, jika kekasih yang dicinta dan disayangnya mesti pergi meninggalkan dirinya yang baru saja merayakan hari kasih sayang mereka berdua karena hanya hal sepele ! Lalu apa yang akan dilakukan oleh perempuan tersebut  untuk memadamkan api yang menyala dalam dirinya? Tidak, ia tidak akan melakukan apapun kecuali menerima apa yang mendatanginya.

Cinta ibarat sang pembawa anggur yang yang menuangkan minuman di gelas-gelas hingga meluap dan meminum apapun yang dituangkan. Dan tentu saja hal itu membuat kita tak menyadari betapa kuatnya minuman itu sebenarnya. Rasa mabuk yang pertama kali dialami selalu menjadi yang terhebat. Jatuh yang pertama kali selalu menjadi pengalaman yang terberat. Dan patah hati yang dirasakan untuk pertama kali selalu menjadi yang paling menyakitkan. Melupakan dan mengikhlaskannya adalah kunci, jika tidak sesuatu itu akan membawamu menuju jurang kebodohan dan kesengsaraan.

*******

Nama saya Winda, atau seringkali dipanggil Odang oleh orang-orang di kampung. Seorang perempuan yang kerap berpenampilan seperti lelaki pada umumnya. Mungkin seperti itulah anggapan orang-orang terhadap saya, karena hanya melihat penampilan lantas tidak memahaminya terlalu dalam. Dimana saya tidak nyaman dengan memakai baju yang terlalu feminim atau memakai rok yang jika ditiup angin akan membuat mata para lelaki jadi melotot. Tapi biarkan, itu tak masalah bagi saya. Adapun bait – bait dalam cerita ini akan dikisahkan layaknya kehidupan yang terus mengalir atau mungkin membajiri air mata pada saat saya harus mengingatnya kembali.

Apa yang kalian inginkan dalam kehidupan ini ? kebahagian, kesenangan atau mungkin kaya raya? kebahagiaan jawab orang awan itu, tapi itu akan berbeda dengan Mark Manson. Menurutnya segala sesuatu yang berisi pada kebahagiaan itu adalah masalah. Artinya masalah sama dengan kebahagiaan atau masalah adalah bagian dari kebahagiaan kita. Pada intinya kebahagiaan datang dari keberhasilan seseorang untuk memecahkan masalah, kuncinya ada pada kata “memecahkan”. Jika kita senangtiasa berusaha menghindari masalah atau merasa seakan-akan tidak punya masalah apapun, kita akan membuat diri sendiri menjadi sengsara. Sedangkan untuk  menjadi bahagia , kita memerlukan sesuatu untuk dipecahkan.

Seperti itu pula kehidupan yang tak akan luput dari secercahan lingkup periodesasi masalah yang menhampiri mahluk seperti manusia. Baik itu datangnya dari lingkup sosial, pendidikan maupun bagi dirinya sendiri. Putus cinta misalkan, ya galau deh akhirnya…..!!! Akan ada suatu waktu dimana perasaan tak lagi seperti pada biasanya, ketenangan yang pada biasanya berhenti pada kehampaan, dan kebahagiaan yang menhampiri setiap waktunya adalah sebuah ilusi. Karena semua itu adalah fatamorgana. Kita tinggal mengunci pintu kamar, dengar lagu-lagu melow dan mematikan lampu kamar. Seketika ruangan menjadi tenang dan yang hanya ada dirimu dengan bantal guling atau boneka beruang kesukaan kita.

******

Setiba waktu perkuliahan selesai para mahasiswa pada buru-buru keluar dari ruangan, berbeda denganku yang lebih memilih mengambil nafas sejenak dan berhias diri berharap akan bertemu dengannya. Siapa lagi kalau bukan Ainun. Salah satu mahasiswa yang telah mencuri perhatian ku sejak bertemu pertama kalinya, namun dia pulalah yang membuatku tidak lagi bisa berpaling dari laki-laki yang lain nan menghampiri setiap saatnya. Bagiku Ainun adalah spesies manusia yang berbeda dengan lelaki pada umumnya, kau tak akan paham cara berfikirnya, sedikit aneh, pendiam tapi satu hal dia itu nyenengin. Mungkin itulah kenapa ia begitu spesial dalam diriku.

Pada awalnya ku tak akan paham, kenapa setiap saatnya saya mesti merasakan kekhawatiran paling hebat setiap dengan seseorang begitu besar pengharapanku padanya. Hingga suatu hari, melalui temanku yang namanya Tenri ada sosok lelaki yang ia ceritakan kepadaku, katanya ada seseorang yang jatuh hati pula kepadaku, terus kutanya

“Siapa namanya?” ia jawab “nantilah kau akan tahu, cus naik ke mobil dulu gih dang”.

Tanpa pikir lama segera ku membuka pintu mobilnya. Di dalam mobil tersebut ku lihat ada lelaki yang  sudah menunggu dari tadi, dalam benakku “siapa dia ? dan dari tadi waktu saya masuk dalam mobil tak pernah sekalipun berhenti melihatku sambil tersenyum” hingga aku jadi tersipu malu melihatnya. Lanjut, Si Tenri ini pun akhirnya ikut masuk kedalam mobil.

“Dang, kenalin ini dia namanya Aswar”

“Hey, Aswar *sambil mengajukan salaman kepadaku

“Iya, Winda” jawabku

“Kata Tenri, kamu teman sekolahnya yah?”

“iya, jawabku”

“Tenri, sudah cerita banyak soal kamu pas jalan kerumahmu”

“Aduh…Tenri, kau cerita apa saja ?” *sambil memegang tangan yang bergetar

“Tenang saja wind, hehe” kata aswar.

Disela perjelanan, Tenri berbisik kepadaku.

“Dang, ini dia lelaki yang jatuh hati padamu,

Coba deh kamu kenalan lebih dekat dengannya” dalam benakku apa dia ini “Aswar yang menhubungi saya dan selalu mengajak saya keluar untuk bertemu?”. Tiba-tiba Aswar mengajak kita semua karokean pada akhirnya. Pada hal saya berjanji akan menghubungi ainun setelah ia pulang ke rumah. Singkat cerita, akhirnya kita karokean tak mengenal waktu dan aku pun terhanyut dalam kebahagiaan mereka sampai lupa waktu dan tidak mempedulikan apapun kecuali layar yang ada di depan mata. Termasuk hanpdhone milikku berkedip-kedip tanda ada yang orang yang lagi menelfon.

Hufttt…., Ainun menelfonku hingga beberapa kali, namun tak memperdulikannya. Hingga akhirnya kucoba menelfon balik. Walaupun berkali-kali saya telfon dan  mengirimkan pesan kepadanya tapi tak kunjung ia balas sedikitpun. Hati saya pun mendadak cemas dalam mobil dan hanya meratapi penyesalan saya sendiri. Hingga disetiap perjalanan pulang saya hanya bisa diam walaupun kerap kali ditegur oleh Tenri dan Aswar. Dalam benakku hanya terdentung nama “Ainun…ainun…dan ainun..” tiada yang lain. Meski sedikitpun air mata perlahan jatuh yang tak mampu lagi ku tahan. Sesampai depan rumah saya tak sempat pamit pada mereka dan langsung saja mauk ke dalam rumah. Mungkin mereka akan bertanya-tanya kepadaku tapi aku tak peduli. Mungkin inilah hukuman yang mesti aku tanggung sendiri karena mengingkari janji dengan Ainun.

Hampir setelah sejam lebih, tiba-tiba ada pesan masuk dari Ainun, dan kulihat ada pesan foto yang ia lampirkan. Cepat-cepat kubuka pesannya, di dalamnya ada foto berdua anatara saya dan aswar. Entah dimana kemudian Ainun mendapatkan foto tersebut, tak lagi jadi alasan untukku untuk bertanya soal itu, kecuali menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun, nasib telah jadi bubur, apapun yang telah kujelaskan kepada Ainun tidaklah kini berarti kecuali arti sebuah kekecewaan. Semua pesan yang kukirimkan kepadanya tidaklah menemui balasan, dan media sosial yang menghubungkanku dengannya tidak lagi ada.

Menghilang di dunia dan menghilang pula dalam dunia maya. Yang ada hanya sisa-sisa tawa dan kenanganku dengannya. Berbaringan di atas kasur, sesambil memeluk bantal guling dan sesekali melihat fotonya di dinding kamarku, penanda semangat pagiku dikala pagi menuju pulau harapan namun ia pula pada akhirnya mengantarkanku pada jurang kepedihan. Satu hal bagi saya, seorang yang memberi kebahagiaan yang tak dapat engkau jelaskan akan selalu menjadi alasan atas kesedihan yang tak bisa kau jelaskan. Dan api cemburu akan membakar hati hingga menghanguskan sejuta kenanganku kepadanya.

******

Hari berganti, tepi perasaan tetaplah sama…..!

Setahun pun berlalu, dan sampai terdengarkan kabar kalau sekarang Ainun telah menjalin kasih dengan seorang perempuan. Dan sontak dalam hati yang begetar hebat, seolah menepis dan tidak mampu menerima realitas, namun itu juga adalah kebenarannya. Patah sepatah-patahnya dan jatuh sejatuh-sejatuhnya. Namun, satu hal yang mesti ia tahu sebelumnya di kala ia menjauh dan hilang dari cakupanku, selama itu pula saya berusaha mencari dirinya namun tak lagi dipedulikan. Hingga kabar buruk tersebut harus saya dengar sendiri dan kuterima dengan berlinang air mata kembali. Selalu saja ada kesedihan yang memnghampiriku? Ataukah saya harus bersepakat dengan Nietche bahwa memang Tuhan itu tidak adil maka Tuhan tidaklah ada?.

Pada hari-hari berikutnya, kehidupan kembali berjalan seperti pada biasanya. Bertemu dengan teman-teman kampus, bercanda ria dengan adik kelas, nongkrong tiada waktu dan seolah lupa akan ada hati yang sedang tergores luka. Mungkin, dengan seperti itu sedikit-sedikit rasa sakit yang tersimpan akhirnya terkikis.

Tak butuh lama tuk menyembuhkan luka, datang seorang lelaki yang mengajakku menuju ke salah satu pesta. Yah, lelaki itu bernama Rasyid. Pria seorang pengusaha muda yang telah terpenjarakan cinta sejak dulu denganku. Ia begitu baik denganku dan juga dekat dengan keluargaku, namun waktu itu ku tak mempedulikannya karena waktu itu saya masih terikat dengan Ainun. Ia mengajakku ke pesta pernikahan kerabat lamanya. Hingga  hubungan kami menjadi lebih akrab dan saling menegtahui sama lain. Ku lihat di acara pernikahan yang sungguh sederhana itu terkesan berbahagia baik antara keluarga maupun bagi kedua mempelai di bandingkan pernikahan yang terkesan glamor dan menguras banyak duit jika tak menuju pada esensi pernikahan.

Kulihat juga Rasyid dan kerabat berbicara banyak diatas pelaminan dan seketika, ia memanggilku menuju keatas dan diperkenalkan kepada kerabatnya. Setelah ingin meninggalkan dan bersalaman dengan mempelai, kerabat Rasyid membisikiku dan berkata “Winda, setelah ini kalian lagi yah berdua” yang kulakukan hanya senyum-senyum sendiri sambil melambaikan tangan kepada mereka. Kufikir itu adalah doa buatku dan tinggal saja aku Amin-kan….Amin. Entah dengan Rasyid nantinya saya menikah atau bukan saya hanya bisa berusaha dan berdoa saja. Karena jodoh bukanlah sepenuhnya kehedak semesta dan menjadi determinis seperti Marx, yang ada adalah aktualisasi potensi dan irada (kehendak) Tuhan. Jika itu tercapai, apapun dapat terjadi. Kunfayakun !

Perjalanan cinta seseorang terkadang selalu menemui keelokan dan ceritanya masing-masing, begitupun denganku dan Rasyid. Hampir hinggap setahunan kami menjalin kehidupan romansa bak terhitung purnama kita lewatkan berdua. Masalah-masalah yang tak terkirakan baik besar atau kecil tlah kita lewatkan untuk memantapkan diri bersama dalam lingkup kasih sayang. Senang bercampur tawa, sedih bercampur air mata dan pahitnya telah kami lewatkan. Sungguh kehidupan manusia amatlah dinamis.

******

Tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba Ainun datang menjumpaikau. Padahal saat itu pun saya tak sengaja pula sedang berada dirumah sepupunya. Entah kenapa ainun begitu senang dan tersenyum padaku. Tapi ku tak peduli lagi, toh juga ia ada yang punya. Sekejap ainun memegang tanganku dan membawaku ke sebuah meja di sudut sana. Dimana yang ada hanya aku dengannya. Tanpa berpikir panjang, Ainun tiba-tiba berkata seperti ini

“Winda, cinta adalah penyakit. Ia membuat orang lemah di hadapan insan yang dicintainya. Ia menyebabkan candu kehidupan, seakan-akan hidup tak punya arti tanpanya, dan seorang harus memiliki ketergantungan dengannya. Oleh karena itu aku tak ingin terjerat cinta lagi, kecuali denganmu” Lalu, mauka kau kembali denganku?

Jatung saya seketika berdenyut kencang, kedinginan dan tak mampu menengok kiri dan kananku. Kecuali melihat kesungguhan hati dari Ainun. Tapi, dalam relung hati ini ada Rasyid sebelumnya. Dengan penuh pertimbangan hati, saya hanya bisa berkata pada ainun “Maaf, saya sedang menjaga perasaan orang lain”. Lalu wajah ainun berubah menjadi diam, dan meninggalkanku di meja tersebut. Namun, satu hal bagi Ainun buatku, ia pula pernah berkata seperti demikian kepadaku ketika saya mengajaknya menonton film. Bukan pula bermaksud untuk membalas dendam, tapi benar saat itu saya telah terjerat asmara dengan Rasyid. Walaupun masih saja ada perasaanku dengannya, tapi demikian pula yang semestinya ia pahami. Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah.

******

Waktu demi waktu saya lalui dengan Rasyid hingga, ada keseriusan dan keinginan terbesar dalam benaknnya untuk meminangku. Tapi,saya tak akan begitu percaya jika hanya dengan kata-kata saja. Karena dalam prinsip saya terlalu banyak orang sibuk untuk menyakinkan dibandingkan membuktikan. Maka jika ia bersungguh-sungguh maka silahkan saja datang kerumah meminta pinangan itu kepada orang tua saya.

Besoknya, datanglah perantara dari pihak Rasyid untuk memintaku, dan berselang setelahnya di hari selanjutnya datanglah keluarga Besar dari pihak Rasyid untuk menepati pertemuan sebelumnya. Disitulah kemudian saya menyadari dan berfikir bahwa kesungguhan cinta rasyid kepadaku. Dan tidak lagi ada keraguan di dalamnya. Tapi, berbeda denganku yang ada sedikit mengganjal. Rasanya saja kok terkesan terburu-buru. Saya saja masih ingin mengejar keinginan-keinganku yang lain. Sontak saja, ibunda saya berkata seperti ini, Dang, pernikahan pun adalah keinginan semua orang, jika ada orang datang dan meminta ini secara baik-baik, kenapa kita tidak menerimanya? Jika memang ini kehendak ilahi semua akan baik-baik saja nak. Ketika kabar akan pernikahanku ini telah disepakati, secepat itu pula kabar ini tersebar kepada keluarga besarku.

Namun, menjelang hari-hari pernikahan ada satu peristiwa yang tak diinginkan. Rasyid tiba-tiba saja menhilang. Tiada kabar tentangnya, hingga berulang kali saya coba berkomunikasi namun tak terhubung dengannya. Yah, hingga akhirnya turut langsung kucari-cari keberadaan tentangnya melalui teman terdekatnya, kudatang kerumahnya dan mengunjungi tempat dimana ia biasa berada, namun hasilnya tetaplah nihil. Orang tuaku pun juga ikut panik dengan kabar ini, dan mempertanyakan kelanjutan resepsi pernikahan ini kepada keluarga Rasyid namun tak pula menemukan jawaban.

Hati mana yang tak hancur, di hari menjelang pernikahan seketika peristiwa yang tak kau inginkan akhirnhya terjadi. Saya tak bisa membayangkan kegilaan apa lagi yang menghampiriku, kacau se-kacau-kacaunya dan hancur sehancur-hancurnya. Lelah dan letih sepanjang hari ku mencari keberadaan rasyid serta tak hentinya ku membendung rasa kecewa keluarga dan rasa bersalahku, hingga pernah suatu waktu ayahku sendir mengusirku keluar rumah karena isu tuntutan diriku yang banyak meminta kepada Rasyid hingga membuatnya harus pergi. Karena ketidakterimaanku terhadap hal tersebut, maka kuniatkan untuk mencari sampai kemanapun ia berada. Sampai saya dapat menemukannya dan membicarakan itu berdua dihadapan orangtuanya tentang tuntutan yang begitu memberatkan dirinya. Tiada perjuangan yang sia-sia, hingga akhirnya kabar tentang rasyid dapat kuketahui lewat salah satu perempuan, bahwa Rasyid berada di Kalimantan. Makin buruknya pula perempuan yang saya temui itu adalah mantannya sendiri. Akan tetapi, beratas namakan harga diri saya tetap menghubungi dirinya. Walapaun pahit sekalipun, tapi semua yang bengko mesti harus diluruskan. Hingga Rasyid kembali kerumahnya, saya pun memberanikan diri untuk mengajaknya untuk bertemu secara langsung dan membicarakan apa yang sebenarnya terjadi.

Di sebuah rumah makan dekat kota, saya dan dirinya akhirnya bertemu dan meminta untuk sejujurnya untuk berkata sebenarnya. Beberapa poin yang saya tangkap dari pembicaraannya, bahwa ada permasalahan internal dari keluarga Rasyid sendiri dan kebingungan akan keraguan dalam dirinya sendiri. Pembicaraan terus saja berlanjut, hingga ia menceritakan kalau Adik perempuannya juga ingin melangsungkan pernikahan dan tidak menerima jika pernikahan Rasyid dilakukan terlebih dahulu dengannya. Karena dalam tradisi keluarga Rasyid tidak akan mengadakan resepsi dua kali dalam satu tahun. Hingga keegoisan adiknya inilah yang membuat Rasyid bingun dan ragu entah ingin berkata apa kepadaku. Tapi, ketidaksetujuan saya adalah dengan sikap yang ia tunjukkan yang tak jantan dan malah menampilkan kebodohannya tersendiri. Satul hal pula yang tak saya terima adalah, isu yang mengatakan kehilangannya karena permintaan dan keserakahanku dalam menuntu banyak kepadanya. Padahal ternyata itu adalah pengalihan dan konstruksi keadaan yang dibangun kepada keluargaku. Setelah rasyid menceritakan itu semua kepadaku, sontak seketika itu pula saya mesti menggigit jari, menanggung kekecewaan mendalam kepada keluarga, Siri’ (malu) kata orang bugis.

Pada saat itu pula, kepercayaan keluargaku kepada keluarga Rasyid hilang seketika, walaupun kedua kalinya Rasyid datang memohon maaf dan meminta pernikahan itu kembali namun, tekat bulat dari orangtua sudah selesai untuk tidak menerima kekecewaan kedua kalinya. Seketika pula hubunganku dengan rasyid menjadi renggang dan memilih menyendiri saja. Untuk kedua kalinya pula saya mesti menanggung sakit yang mendalam. Tak mampu lagi tergambarkan dan tak mampu lagi terfikirkan, hanya air mata selalu menjadi tanda kekecewaan atas kesedihan-kesedihanku. Selama seminggu itulah saya hanya tinggal dalam kamar dan nafsu makan menurun apalagi semangat hidup yang tak lagi ada. Mungkin benar apa yang dikatakan Nietsche, selalu ada kegilaan dalam cinta, tapi ada selalu saja ada alasan atas kegilaan itu.

******

Pagi menampakkan sinar berwarna kuning menembus jendela kamar, sementara matahari yang terbangun dari tidurnya, melukiskan warnah semerah mawar di langit. Namun daku, yang lelah karena kesedihan serta kepedihan, bagaiakan bunga di musim gugur, kelopaknya layu lalu jatuh.

Kuperhatikan jam di dinding dan foto sang kestria yang hilang. Seolah ada dorongan untuk menghubunginya, Yah siapa lagi, jika bukan Ainun. Entah apa yang mampu menggerakkan tangan ku untuk menelfonnya. Tidak lama setelahnya, ainun mengankat telfon dariku. Lalu, akhirnya dengan penuh kerinduan dan kesedihan yang tak lagi mampu ku bendung. Apa yang telah terjadi padaku ku ceritakan seluruhnya kepada Ainun. Tidak lagi ada tempatku mengadu selain daripadanya, tiada lagi pundak untukku bersandar kecuali dengannya dan tiada pendegar yang baik selain dari padanya. Ialah Ainun.

Setelah lama pembicaraan ku dengannya, hingga kita berdua sadar telah sejaman lebih kami berdua telfonan. Namun, karena tak ingin menggangu kepentingan dan kerjaan yang ditekuninya maka kuurungkan untuk mengkahiri sementara percakapanku dengannya. Setidaknya itu mampu memspektrum kembali kehidupanku untuk membaik.

Tiba-tiba saja di akhir percakapan Ainun berkata seperti ini “Winda, engkau bagaikan ngengat yang beterbangan di malam hari, bergarap menemukan cahaya lilin. Tapi jangalah engkau menjadi lilin itu yang mengeluarkan air mata hangat sementara tubuhnya habis dimakan kesedihan. Mengapa kau menyerah? Mengapa kau memutuskan semua harapan ? Aku memiliki cinta dan kau pun punya. Percayalah padaku, aku akan membantumu mendapatkan apa yang telah digaris takdirkan untukmu. Cinta akan kebahagiaan. Saya pun tidak mampu berkata-kata mendegarkan ucapan yang keluar dari mulutnya, dan hanya bisa menghayati setiap kata yang diucapkannya. Seolah setiap sabdanya adalah obat penawar sakit hati ku ini. Oh Tuhan, terimakasih telah kau kirimkan mahlukmu sepertinya dalam benakku. Hingga telpon kami akhirnya harus terputus sejenak.

Tiada lagi air mata, tiada lagi kesedihan yang ada kini adalah usaha memecahkan masalah kini. Maka itu kata Mark Marson, masalah pula adalah sebuah kebahagiaan. Tergantung bagaimana kita memecahkan masalah tersebut. Jangan lari dari masalah, jangan menghindar, namun hadapi. Karena dalam filsafat cinta, rasa sakit itu pula adalah bagian dari pada mencintai. Maka nikmati rasa sakit itu !

 

Standar

Cerpen dari Adinda

 ” Banyak hal dengan mudah terlupakan, seperti kita sama  sekali lupa kenapa kita tidak bisa mengingatnya lagi. Sesuatu bisa saja hilang dari ingatan, seperti ruh, seperti mimpi, ataukah sepertimu. Kita cuman bisa merasakan jejaknya pada diri kita tanpa bisa mengenalinya lagi. Kita tinggal benci, kita tinggal marah, kita tinggal takut, kita tinggal cinta. Kita tak tahu kenapa ? kita hanya bisa menerima, tidak untuk melawan apalagi dendam.”

______________________________

Bayangkan saja jika kemudian kiamat itu seperti yang ada dalam film-film scifi, dimana hancurnya bumi dan terjadinya tabrakan antar planet atau gempa yang maha dahsyatnya. Lalu manusia ibarat zombie yang berkeliaran dan ketakutan. Tapi berbeda dengan  Francoise Chabuet, selain hancur semesta, kiamat juga adalah saat dimana kita kehilangan akan kenangan. Kehancuran peradaban akan kehancuran ingatan kita tentang masa lalu. Bahkan ditingkatan manusia sebagai individu bisa saja menjadi bermasalah ketika elemen memorinya rusak baik jangka panjang (long term memory) atau pun jangka pendek (short term memory). Hal demikian lah bagi kita dan mesti disadari bahwa kiamat bisa saja terjadi kapan saja. Entah hari esok atau lusa, tiada yang tahu, itu kehandak Tuhan, kau tak akan paham. Maka dari itu perlu kiranya saya akan mendirikan sebuah Lieux de memoire dalam perjalanan kali ini.

*******

Sore kemarin seorang anak lelaki kembali menuju kampung halamannya. Dalam perjalanan kembali ia mengambil sebuah buku berjudul The Imagine John. Buku favorit katanya,  karena di dalamnya mengisahkan perjalanan seorang dokter gigi yang mencintai musik dan seni sehingga kiranya akan berbeda dengan mahasiswa medis pada umumnya. Tapi ada yang masih mengganjal bagi lelaki kita ini. Baginya “Jika kemudian semesta menciptakan waktu pertama kalinya, maka ia salah. Kenapa pula saya mesti hadir diantara jalinan kisah kalian berdua?”. Tapi sudahlah, semua telah terjadi.

Malam ini adalah malam minggu yang setiap pekannya orang-orang memanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga, kerabat,  pasangan ataupun kekasihnya. Tidak dengan lelaki kita ini, dia senantiasa hanya duduk depan leptop dan membaca buku puisi-puisi karya Rusliadi Darwis sambil memesan secangkir kopi di sebuah kedai. Tiba-tiba saja suara telpon terdengar, seketika itu pula ia mengambil telpon dari sakunya. Muka lelaki itu tiba-tiba berubah, kelihatannya ia panik dan resah. Setiap kali ia mematikan telpon miliknya dan menengok kiri dan kananya. Kutanya  “Apa yang terjadi padamu?” lelaki itu hanya diam. Sesekali ia hanya menyalakan telpon miliknya lalu dimatikannya kembali. Dia tampaknya tidak tenang.

Memori wajah kekasihnya kembali hadir dalam ingatannya rupanya. Perempuan yang ia kagumi sejak 2 tahun lalu. Sekaligus kakak seniornya di kampus. Sedikit kulihat wajah perempuan itu, yang diperlihatkannya melalui sebuah foto yang ia simpan di dalam dompetnya. Anggun nan cantik kata lelaki kita itu . Saya pun kembali bertanya kepada lelaki kita, “siapa nama perempuan itu ?” Lelaki itu hanya tunduk. Mungkin  juga itu isyarat bagiku untuk tidak lagi ia menyebut nama perempuan itu.

Arghhhhhhhhhhhhhhhhh ! *Suara lelaki kita

Lelaki itu bersua “Kau tahu api yang kecil pun bisa membakar rumah yang besar, seperti itu pula kenangan. Saya fikir siang kemarin adalah waktu terakhir bagi saya dengannya. Dan setelah itu tidak ada lagi perjumpaan kedua kalinya dengannya. Karena saya fikir cukup sudah goresan luka dan air mata ia  tinggalkan. Apa kau masih inginkan itu lebih?. Mau sampai kapan melakukan hal demikian? Mencoba hal ini dan itu dalam waktu sekejap. Yang kau maknai kebahagian dan kesenangan pun terlalu sempit.

Bukankah itu sebuah kesalahan berfikir (Circular Reasoning). Lihatlah mereka yang berbahagia dengan penuh rahmat atas kesyukuran yang dimilikinya. Tapi beda dengan mu. Ku fikir janji yang kau buat untuk tidak lagi demikian, hanyalah sebuah kata tanpa kebenaran. Memang kejam dan tajam. Demikian kata adalah senjata, yang bisa menyerang siapa saja. Cukup sudah bagi saya dan tidak lagi terhadap orang lain. Biar saya yang menanggung ini semua, itu saja.”

*******

Apa yang paling berharga bagimu? Detik yang baru saja terlewatkan jawabku. Tak perlu kau dengar, biarkan saja kusimpan rapat-rapat. Agar kau bisa mengenang jika kita pernah berdiri sejajar dan berjalan beriringan dalam sepinya lorong dan dinginnya malam. Walau pada akhirnya kita sadar menidakan kita berdua adalah satu-satunya cara agar kita bisa bersama.

*******

Lelaki kita langsung menyalakan kembali telpon miliknya. Ia nampak membalas seluruh pesan yang masuk dari kawannya. Lalu, ia menyalakan pula leptop miliknya dan berkata “Saya akan menuliskan cerita saya dengannya”. Ku jawab “Silahkan saja”. Akhirnya ia tidak lagi tampak merenung dan cemas. Kulihat ada segelintir semangat dalam wajahnya. Mungkin karena tiba-tiba ada wahyu datang dari langit menghampirinya. Tapi percayalah, daun yang jatuh tidak pernah menyalahkan angin. Kita tidak perlu menghakimi waktu atau person secara mendalam. Sekian ~

 

Standar